Minggu, 01 Februari 2015

Kemensos Validasi Warga Miskin Tak Terdaftar untuk Dapatkan 'Kartu Sakti'

[unable to retrieve full-text content]
Kemensos optimis mampu menurunkan angka kemiskinan di Indonesia. Selain itu, bagi warga miskin yang belum terdaftar pun akan diregistrasi sehingga bisa mendapatkan bantuan sosial seperti KKS.

Begal Sadis di Depok Mengaku Beraksi 4 Kali, ini Lokasinya





Kapolsek Sukmajaya Kompol Agus Widodo dan Kapolresta Depok Kombes Ahmad Subarkah dalam jumpa pers (Foto: Hendrik IR/detikcom)

Depok - 3 Begal yang dibekuk polisi di Depok beraksi di beberapa tempat. Kepada polisi, mereka mengaku merampas motor di 4 lokasi. Di mana saja?

Kapolresta Depok Kombes Ahmad Subarkah menyebut, tersangka beraksi di Jalan Raya Margonda Beji, Jalan Raya Siak Depok Timur, Jalan Raya Krikut Limo, dan Jalan Raya Boulevard Sukmajaya. Ada 3 motor yang disita, yakni Yamaha Mio merah B 6242 VIH, Yamaha Xeon hitam B 3611 ECD, dan Honda CBR putih F 6933 JO milik korban Suherman.


"Kami masih kembangkan punya siapa kedua Yamaha itu. Apakah milik pelaku atau korban lainnya," sebut Ahmad Subarkah kepada wartawan di Mopelsek Sumajaya, Minggu, (1/2/2015).


Dari 5 begal, 3 di antaranya dibekuk setelah terlibat kejar-kejaran dengan polisi di Jl Boulevard pada Minggu dini hari. Mereka adalah DF (18), IM (17), dan AI (18).


"Masih didalami lagi soal jaringan mereka," tambah Ahmad Subarkah.


Saat ini, tersangka berada di Mapolsek Sukmajaya. Mereka dijerat Pasal 365 dan Pasal 368 KUHP dengan ancaman hukuman 12 dan 9 tahun penjara. Dari tangan mereka, polisi menyita pisau dan kapak.




Indonesia jadi surga pelaku pedopilia dunia. Saksikan di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(try/try)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.






Foto Terkait




Redaksi: redaksi[at]detik.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com


Tjahjo Akui Pernah Satu Kali Bertemu Samad di Apartemen The Capital

Minggu, 01/02/2015 14:46 WIB


M Iqbal - detikNews





Foto: Tjahjo Kumolo berbatik merah (Grandyos/detikFoto)




Jakarta - Pemilik apartemen The Capital Residence, Supriansa, membeberkan pertemuan Ketua KPK Abraham Samad dengan politikus PDIP Hasto Kristiyanto dan Tjahjo Kumolo di apartemennya. Tjahjo mengakui adanya pertemuan itu.

Tjahjo sebenarnya sempat mengatakan tak mendengar Samad ikut dijaring dalam bursa cawapres Jokowi. Sementara soal pertemuan itu, dia juga menuturkan tak pernah bertemu empat mata dengan Abraham Samad. Namun setelah Supriansa bicara, kini dia mengaku pernah bertemu dengan Samad, ditemani oleh Hasto.


"Saya hanya sekali saja," kata Tjahjo kepada detikcom, Minggu (1/2/2015).


Tjahjo enggan menjelaskan lebih jauh soal pertemuan itu, termasuk materi yang dibahas dalam pertemuan yang menurut Hasto membicarakan soal cawapres Jokowi. Hasto yang lebih dulu buka-bukaan mengaku hanya ingin menjelaskan secara resmi kepada Bareskrim Mabes Polri.


Sebagaimana diketahui, Supriansa diperiksa sebagai saksi atas laporan LSM bernama KPK Watch kepada Bareskrim Polri soal pertemuan Samad, Hasto dan Tjahjo di apartemen The Capital yang ada di kawasan SCBD pada Jumat (30/1) lalu. Namun Abraham Samad membantah adanya pertemuan ini.


Sementara Hasto, membeberkan ada 6 pertemuan antara PDIP dengan Abraham Samad yang membicarakan soal keinginan Samad menjadi cawapres Jokowi. Hasto juga menyebut Samad memakai topi dan masker saat menghadiri pertemuan itu.




Indonesia jadi surga pelaku pedopilia dunia. Saksikan di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(iqb/trq)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.








Foto Video Terkait











Sponsored Link


Twitter Recommendation



Redaksi: redaksi[at]detik.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com


Saat Dibekuk Polisi, Ternyata 3 Begal di Depok sedang Mencari Korban

Minggu, 01/02/2015 14:35 WIB


Hendrik I Raseukiy - detikNews





Kapolsek Sukmajaya Kompol Agus Widodo dan Kapolresta Depok Kombes Ahmad Subarkah dalam jumpa pers (Foto: Hendrik IR/detikcom)

Depok - 3 Begal yang dibekuk polisi di Sukmajaya, Depok, ternyata tak sekadar melintas, melainkan sedang mencari mangsa. Penangkapan berlangsung dramatis. Polisi sempat melepaskan tembakan peringatan.

5 Begal mengendarai 3 sepeda motor. Mereka berputar-putar di sekitar Jl Boulevard, Sukmajaya, Depok, Minggu (1/2/2015) dini hari.


"Tersangka mencari korban di kawasan Tirtajaya (Sukmajaya)," kata Kapolsek Sukmajaya Kompol Agus Widodo dalam jumpa pers di Mapolsek.


Tersangka berpapasan dengan 8 polisi yang sedang patroli. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Polisi sempat mengeluarkan tembakan peringatan. 3 Begal menyerah, 2 lainnya meloloskan diri. Tersangka yang diamankan berinisial DF (18), IM (17), dan AI (18).


Tersangka dijerat Pasal 365 dan Pasal 368 KUHP dengan ancaman hukuman 12 dan 9 tahun penjara.




Indonesia jadi surga pelaku pedopilia dunia. Saksikan di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(try/try)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.






Foto Terkait











Sponsored Link


Twitter Recommendation



Redaksi: redaksi[at]detik.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com


Petugas Berhasil Padamkan Kebakaran Rumah di Cikajang Kebayoran Baru

Minggu, 01/02/2015 14:34 WIB


Ferdinan - detikNews





Jakarta - Kebakaran rumah terjadi di Jl Cikajang, Kebayoran Baru, Jaksel siang ini. Petugas pemadam berhasil memadamkan api dalam waktu 1 jam.

"Sudah padam kebakarannya," kata Mulyono petugas piket Sudin Pemadam Kebakaran (Damkar) Jaksel saat dikonfirmasi Minggu (1/2/2015).


Laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 13.10 WIB. Rumah yang terbakar berada di RT 001/005 Petogogan.


Menurut Mulyono, sebanyak 21 mobil pemadam langsung bergerak ke lokasi. "Pukul 14.25 WIB sudah berhasil dipadamkan," sebutnya.


Namun belum ada informasi mengenai penyebab ataupun kerugian yang diderita karena kebakaran ini. "Belum ada datanya karena petugas belum kembali ke kantor," ujar Mulyono.




Indonesia jadi surga pelaku pedopilia dunia. Saksikan di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(fdn/try)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.






Foto Video Terkait











Sponsored Link


Twitter Recommendation



Redaksi: redaksi[at]detik.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com


Jika Komjen BG Menang, Tersangka Korupsi Lain Bisa Ikut Praperadilankan KPK

Minggu, 01/02/2015 14:34 WIB


Rivki - detikNews









Jakarta - Pakar hukum tata negara Refly Harun berharap Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) menolak praperadilan Komjen Budi Gunawan. Bila dikabulkan, maka praperadilan akan dijadikan celah hukum untuk para koruptor.

"Kalau ini dimenangkan BG, semua tersangka korupsi akan gunakan praperadilan untuk mempermasalahkan status tersangkanya," ujar Refly di Bakoel Cafe, Jl Cikini Raya, Jakarta, Minggu (1/2/2015).


Refly mengatakan bila hakim Sarpin Rizaldi selaku hakim tunggal praperadilan BG vs KPK mengabulkan permintaan BG, maka KPK akan gigit jari. Dia meminta hakim berpedoman dengan KUHAP dalam memutus perkara ini.


"Kita juga tahulah pengadilan di sini masih banyak brengseknya. Kalau ini dimenangkan, KPK akan gigit jari," ujarnya.


Refly menambahkan, pra peradilan tidak bisa menguji status penetapan tersangka. Tapi Refly mengingatkan, PN Jaksel pernah memutus hal yang sama di kasus Chevron.


"Pra peradilan itu hanya untuk menguji penangkapan, penahanan dan atau ganti rugi," ujarnya.




Indonesia jadi surga pelaku pedopilia dunia. Saksikan di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(rvk/trq)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.








Foto Video Terkait











Sponsored Link


Twitter Recommendation



Redaksi: redaksi[at]detik.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com


Sabtu, 31 Januari 2015

Politikus PDIP Sebut Komjen Budi Korban Kriminalisasi

Minggu, 01/02/2015 14:27 WIB


Rivki - detikNews









Jakarta - PDIP menyebut Komjen Budi Gunawan seolah dikriminalisasi terkait kisruh KPK Vs Polri. Kriminalisasi atas Budi Gunawan terkait banyaknya tudingan yang menyebut calon Kapolri itu bukan sosok polisi bersih.

"Tidak bersih dalam perspektif apa? Laporan Hasil Analisis PPATK dia dianggap wajar, dia juga belum divonis statusnya tersangka," ujar anggota Divisi Hukum PDIP Ateria Dahlan di Resto Bakoel Cafe, Jl Cikini Raya, Jakarta, Minggu (1/2/2015).


Ateria menyebut kriminalisasi terhadap Budi Gunawan terkait adanya isu jenderal bintang tiga itu titipan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Dia membantah isu itu dan menegaskan tidak ada titipan dari siapa pun terkait penetapan Kapolri.


"Itu domain Pak Jokowi, monggo ditanya apakah ada tekanan saat menetap BG? Tapi ada opini seperti itu apakah ini tidak kriminalisasi?" ucap Ateria.


Atas adanya tuduhan-tuduhan itu, Ateria menganggap Polri seolah menjadi korban kriminalisasi. Dia juga menegaskan, PDIP tidak ada maksud untuk menghancurkan KPK.


"Kami cinta KPK tidak mungkin dihancurkan, karena KPK sendiri terbentuk di zaman Bu Mega," ujarnya.




Indonesia jadi surga pelaku pedopilia dunia. Saksikan di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(rvk/trq)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.








Foto Video Terkait











Sponsored Link


Twitter Recommendation



Redaksi: redaksi[at]detik.com

Informasi pemasangan iklan

hubungi : sales[at]detik.com